Selamat datang di website resmi SMAN 6 Bandar Lampung

HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2018

Hari Pendidikan Nasional atau HARDIKNAS , kembali diperingati bagi seluruh warga Indonesia khususnya penduduk Indonesia yang bergelut di Dunia Pendidikan, Hari Pendidikan Nasional ini diperingati pada Tanggal 2 Mei setiap tahunnya.

Tanggal 2 Mei adalah hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara, beliaulah yang dianggap sebagai pahlawan yang memajukan pendidikan di Indonesia, berkat jasa beliau Perguruan Taman Siswa berdiri, suatu lembaga pendidikan yang memberikan kesempatan bagi para pribumi jelata untuk bisa memperoleh hak pendidikan seperti yang diterima para priyayi maupun orang-orang Belanda.

Ki Hadjar Dewantara juga suka menulis, banyak tulisannya yang keras tajam terutama  untuk menyindir Belanda, salah satunya adalah “Als Ik Eens Nederlander Was” (Seandainya Aku Seorang Belanda) Tulisan itu dimuat surat kabar  De Express pada 13 Juli 1913. "Sekiranya aku seorang Belanda, aku tidak akan menyelenggarakan pesta-pesta kemerdekaan di negeri yang telah kita rampas sendiri kemerdekaannya. Sejajar dengan jalan pikiran itu, bukan saja tidak adil, tetapi juga tidak pantas untuk menyuruh si inlander memberikan sumbangan untuk dana perayaan itu. Ide untuk menyelenggaraan perayaan itu saja sudah menghina mereka, dan sekarang kita keruk pula kantongnya. Ayo teruskan saja penghinaan lahir dan batin itu! Kalau aku seorang Belanda, hal yang terutama menyinggung perasaanku dan kawan-kawan sebangsaku ialah kenyataan bahwa inlander diharuskan ikut mengongkosi suatu kegiatan yang tidak ada kepentingan sedikit pun baginya". Tulisan itu sangat tajam mengeritik dan menyindir kolonialis Belanda. Akibat tulisan ini ia ditangkap atas persetujuan Gubernur Jenderal Idenburg dan akan diasingkan ke Pulau Bangka (atas permintaan sendiri). Namun demikian kedua rekannya, DD dan Tjipto Mangoenkoesoemo, memprotes dan akhirnya mereka bertiga diasingkan ke Belanda (1913). Ketiga tokoh ini dikenal sebagai "Tiga Serangkai". Soewardi kala itu baru berusia 24 tahun. Sepulangnya ke Indonesia Ki Hadjar Dewantara membangun Nationaal Onderwijs Instituut Taman siswa (Perguruan Nasional Taman siswa) pada 3 Juli 1922 yang menjadi awal dari konsep pendidikan nasional.

Dalam Kabinet Pertama Republik Indonesia Ki Hajar Dewantara diangkat menjadi Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan Indonesia. Beliau Ia juga mendapat gelar doktor kehormatan (doctor honoris causa, Dr.H.C.) dari Universitas Gadjah Mada pada tahun 1957. Atas jasanya dalam merintis pendidikan umum di Indonesia, Ki Hajar Dewantara dinyatakan sebagai Bapak Pendidikan Nasional Indonesia dan berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 tahun 1959 tertanggal 28 November 1959, hari kelahiran Ki Hajar Dewantara yaitu tanggal 2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional.

Ki Hadjar pun aktif menjadi pengurus Boedi Oetomo dan Sarikat Islam. Ajaran kepemimpinan Ki Hadjar Dewantoro yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sun Tulodo, Ing Madyo Mbangun Karso, Tut Wuri Handayani. Jadi makna Ing Ngarso Sun Tulodo adalah menjadi seorang pemimpin harus mampu memberikan suri tauladan bagi bawahan atau anak buahnya. Sehingga yang harus dipegang teguh oleh seorang pemimpin adalah kata suri tauladan.
Sebagai seorang pemimpin atau atasan harus memiliki sikap dan perilaku yang baik dalam segala langkah dan tindakannya agar dapat menjadi panutan bagi anak buah atau bawahannya. Sama halnya dengan Ing Madyo Mbangun Karso, Ing Madyo artinya di tengah-tengah, Mbangun berarti membangkitan atau menggugah dan Karso diartikan sebagai bentuk kemauan atau niat. Karena itu seorang pemimpin juga harus mampu memberikan inovasi-inovasi dilingkungan tugasnya dengan menciptakan suasana kerja yang lebih kodusif untuk keamanan dan kenyamanan kerja. Sehingga artinya Tut Wuri Handayani ialah seorang pimpinan harus memberikan dorongan moral dan semangat kerja dari belakang.

Kemerdekaan Indonesia sudah diraih sejak 1945 namun kualitas pendidikan nasional masih perlu dibenahi. Masih banyak anak bangsa yang belum mendapatkan pendidikan yang layak, terutama kaum marginal yang terdapat di berbagai pelosok bahhkan di Ibu Kota. Maka dari itu pada Hardiknas Tahun 2016 ini,  hendaknya dijadikan sebagai momentun bagi seluruh lapisan yang memperhatikan pendidikan untuk memperjuangkan pendidikan yang layak bagi bangsa Indonesia. Mari kita perbaiki Sumber Daya Para Pendidik di dunia pendidikan dengan menjadi Pendidik yang berakhlakul karimah, berkarakter kuat dan memiliki kompetensi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mari bersama sama selamatkan generasi muda Indonesia, dengan cara meningkatkan mutu pendidikan indonesia dan memperjuangkan anak-anak yang putus sekolah. Melalui hardiknas 2018 ini mari kita kobarkan semangat memperjuangkan pendidikan Indonesia.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai pahlawannya, oleh karena itu mari kita menghayati dan memaknai Hari Pendidikan Nasional ini dengan sebaik-baiknya. Menghayati dan menjadikannya sebagai spirit untuk mendukung program yang pro rakyat terutama di bidang pendidikan.